Dyah Rinni

Penulis Membantu Penulis Lain Menjadi Penulis Lebih Baik
Author Interview | Books | Creativity | Writing

Wawancara dengan Anggun Prameswari, Pengarang Revenge (Seri Second Chance – Penerbit Falcon)

March 24, 2018
Waktu Baca: 6 menit

Kesibukan saya membuat saya hampir lupa kalau saya masih punya hutang wawancara dengan satu penulis Second Chance, Anggun Prameswari. Padahal dari segi cerita, Revenge ini punya ide cerita yang lebih dark, berbeda dengan dua kisah lainnya. Ibaratnya, cokelat, kalau Replace dan Reverse itu cokelat susu dan cokelat kacang, Revenge ini…. yup you guess it, dark chocolate. ^_^ 97%, lagi.  Nah, yang suka ceritanya bitter bak dark chocolate, ayo ngumpul di sini. Kita ngobrolin novel terbarunya mbak Anggun Prameswari, Revenge.

Bisa diceritakan secara singkat, sebenarnya Revenge ini berkisah tentang apa?

Halo! Di Second Chance Series ini, saya menulis cerita berjudul Revenge. Dari judulnya sudah ketahuan, cerita ini tentang balas dendam. Premisnya seorang penulis yang patah hati karena dikhianati kekasih dan sahabatnya, mendapatkan kesempatan membalaskan sakit hatinya melalui diari yang ditemukannya di Kafe Second Chance. Hehehe, cukup panjang untuk premis satu kalimat ya? Semoga dari premis satu kalimat itu, bisa memancing banyak pembaca di luar sana untuk semakin penasaran dan nggak sabar membaca novel ini.

Bagaimana mbak Anggun bisa terlibat dalam serial Second Chance?

Awalnya saya dihubungi oleh perwakilan pihak Falcon Publishing, yaitu Mbak Dyah Rinni untuk bergabung dalam serial ini. Mbak Dyah mengajukan konsep itu dan terbit semacam rasa penasaran dan tertarik untuk bergabung. Belum lagi, ternyata ada beberapa nama yang familier ikut bergabung dalam project ini, sehingga saya merasa tidak “sepenuhnya asing” saat melangkah masuk ke keluarga besar Falcon Publishing.

Apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan mbak Anggun saat mengetahui konsep Second Chance?

Saat itu, pertanyaan pertama yang spontan adalah “Kenapa aku?” hehehe… Insecure duluan ya?

Lalu pertanyaan keduanya, “Apa saya bisa?” Lho, kok malah nambah insecure?

Kenapa punya pertanyaan seperti ini? Sebab ini kali pertama saya ditawari menulis novel romance dengan sentuhan light fantasy. Belum lagi, konsepnya yang memiliki benang merah dengan dua novel Second Chance lainnya. Bagi saya, ini tantangan baru setelah sekian lama vakum menulis novel karena melahirkan dan punya bayi.

Akhirnya dengan perasaan yang kebat-kebit, saya memberanikan diri menerima kepercayaan itu.

Ceritakan dong proses kreatif ide Revenge?

Langkah awal yang besar saat mulai menulis novel adalah merumuskan premis. Saya termasuk penulis yang percaya bahwa premis dan outline harus kuat dulu, sebelum mulai menulis draf pertama. Kenapa? Jauh lebih mudah merombak premis dan outline ketimbang menulis ulang draf 1. Bisa nangis darah kalau sampai harus menulis ulang cerita satu buku, dengan cerita yang diubah-tambal-kurangi sana-sini.

Untung saja, tim editor dari Falcon Publishing, termasuk Mas Jason dan Mbak Dyah Rinni, sangat terbuka untuk bertukar saran, memberi masukan buku dan film sebagai referensi. Lalu, perumusan benang merah Kafe Second Chance yang kuat, termasuk segi deskripsinya dan karakterisasi orang-orang di Kafe itu, membuatku punya gambaran. Membuatku tidak tersesat saat menuliskannya.

Aku ingin menambahkan sentuhan pribadiku di serial ini. Sesuatu yang “Anggun” banget lah, singkatnya begitu. Makanya saya membubuhkan sesuatu yang “kelam” dalam cerita itu. Cerita romance yang sarat rasa sedih, kemarahan, dan putus asa. Duh Gusti, maafkan saya ya? Namun, kurasa begitulah hal-hal yang sering saya tulis. Dark Romance atau Roman Depresi, begitulah beberapa orang menyebutnya. Maka, jadilah novel Revenge ini.

Apa kendala yang dihadapi dalam penulisan Revenge?

Sebagai MahMudABaS (Mamah Muda Anak Baru Satu), waktu adalah barang mewah bagiku. Sangat sulit untuk mencuri-curi waktu menulis cerita, di tengah kesibukan memomong bayi, mengurus rumah, dan bekerja sebagai penerjemah lepas.

Ada nggak sih situasi atau kenangan tak terlupakan saat penggarapan Revenge? Ceritakan, dong!

Pas meeting konsep awal Second Chance Series ini, saya boyongan bawa anak bayi ke kantor Falcon Publishing dan makan siang sama-sama tim sembari menyuapi anakku makan siang. Mantap deh nano-nano rasanya.

Selain itu, proses penulisannya pun juga seperti rollercoaster, sebab seperti yang kusebutkan di poin  sebelumnya, waktu adalah barang mewah bagiku. Maka curi-curi waktu menulis saat si kecil tidur, jadi pengalaman seru tersendiri.

Bagaimana hubungan kamu dengan penulis lain dalam seri Second Chance? Apa kalian sering ngobrolin ide bareng, nongkrong bareng, atau gimana?

Aku termasuk jarang berkomunikasi dengan dua penulis Second Chance Series. Sedangkan dengan tim redaksi, Mbak Dyah dan Mas Jason, saya cukup intens berkomunikasi. Kami membahas plot, referensi, dan banyak detail mengenai cerita ini melalui WA dan Email. Mungkin ini terlihat minimalis, tetapi bagiku ini bentuk komunikasi terbaik yang bisa kulakukan dengan tim pada saat tersebut.

Jika mbak Anggun menemukan kafe seperti Second Chance, benda magis apa yang diharapkan bisa ditemukan di sana?

Kalau saya punya kesempatan menemukan kafe seperti Kafe Second Chance, mungkin saya akan bingung. Hahaha. Mungkin yang kepingin saya lakukan, bukan mencari benda magis, melainkan bertemu dengan pemilik benda-benda magis di sana. Memintanya memilihkan satu yang terbaik untukku. Hehehe…

Sebagai penulis, mbak Anggun tentu sibuk. Bisakah kamu ceritakan bagaimana cara mengatur waktu hingga Revenge bisa selesai tepat waktu?

Mungkin belajar dari pengalaman selama ini, harus lebih disiplin dalam menulis ya. Semua orang pasti punya kesibukannya sendiri. Disiplin pada target yang sudah ditetapkan, bisa jadi trik terbaik sekaligus tersulit untuk bisa menyelesaikan semua tepat waktu.

Semua penulis pasti punya dong harapan akan buku barunya. Nah, apa harapan mbak Anggun dari novel Revenge ini?

Semoga saja novel Revenge ini bisa diterima para pembaca. Bisa menyentuh para pembaca dengan cara yang unik, sehingga hanya dengan membacanya saja, kita semua bisa mendapat kesempatan kedua, menjalani hidup yang lebih bahagia.

Plus, semoga laris jadi best seller dan difilmkan, Amin!

Tuh penasaran gak sih sama ceritanya.

Aamiin banget, deh. Siapa penulis favorit mbak Anggun? Dan kenapa suka banget?

Saya nggak punya penulis favorit, jujur saja. Saya tipe yang lebih suka ceritanya, ketimbang penulisnya, hehe…

Eh, sama dong. Saya juga tipe yang lebih suka cerita daripada penulis. Apa judul novel yang tetap jadi favorit sampai sekarang?

Ada beberapa, di antaranya serial Harry Potter-nya J.K. Rowling, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-nya Pak Ahmad Tohari, Serial Supernova-nya Dee Lestari, Gadis Kretek-nya Ratih Kumala, Gone Girl-nya Gillian Flynn, dan buku-bukunya Anggun Prameswari hahaha…

Wih, ada pesan sponsor nih di buku favorit. Kasih tips dong kepada penulis muda gimana caranya supaya tetap konsisten menulis dan nggak patah semangat dalam menyelesaikan novel?

Untuk menyelesaikan sebuah novel, saya termasuk yang percaya dengan pentingnya perencanaan.

Semua diawali dengan premis yang utuh. Lalu dari premis itu, dikembangkan menjadi sinopsis 2 halaman. Setelahnya, dikembangkan menjadi outline per bab. Dalam fase penulisan outline ini, termasuk yang berat sebab plot, karakter, dan riset dimatangkan. Pastikan semua perdebatan tentang detail cerita itu selesai di fase outline. Namun, percaya deh, setelah outline ini matang, menulis draf pertama itu wuenak banget. Go with the flow–in a path that we have prepared. Duh, ini jadi teknis banget ya?

Sama satu lagi deh. Tanyakan pada dirimu sendiri, kenapa kamu menulis karya ini? Motivasi setiap karya pasti berbeda, dan itu akan jadi bahan bakar untukmu dalam menyelesaikan karya.

Nah, motivasi. Penting banget tuh. Sebagai penulis, pernah nggak sih mbak Anggun nggak mood dalam menulis? Kalau pernah, bagaimana cara kamu mengatasinya?

Pernah banget. Sering malah. Cara mengatasinya? Salah satunya dengan meminta editor untuk mengejar-ngejar agar saya tepat waktu merampungkan naskahnya. *sungkem sama tim editor*

Cara lain, mungkin dengan membuat target harian dan sistem rewards-punishment. Misalnya target harian 500 kata per hari atau 3000 kata per minggu, ya sebaiknya dipenuhi. Bila terpenuhi, bisa menghadiahi diri sendiri dengan benda/makanan kesukaan. Kalau tak bisa terpenuhi, ya didobel. Misalnya hari ini gagal menulis 500 kata, maka besoknya harus didobel jadi 1000 kata dalam sehari untuk menutupi kekurangan kemarin. Kejam ya? Namun, sepertinya ini cukup efektif untuk mengimbangi antara mood dan tenggat yang sering nggak kompak.

Oh, ya. Sebagai penulis terkenal, tentu mbak Anggun pernah menghadapi haters, bagaimana cara menghadapinya?

Kalau haters sih belum pernah. Semoga saya dijauhkan dari haters hahaha. Namun, pembaca yang mengkritik banyak sekali hahaha… Kurasa itu bagian dari proses tumbuh kita sebagai penulis. Setelah karya dilemparkan ke pasar, saya tak pernah bia mengontrol bagaimana karya itu menyentuh para pembacanya. Kita harus ikhlas. Kalau dipuji ya bersyukur dengan cara diterima sebaik-baiknya. Kalau dikritik keras ya bersyukur, dengan cara refleksi. Prosesnya memang sulit, tetapi mau nggak mau harus dilalui.

Saat ini, mbak Anggun sedang sibuk apa? Apakah ada rencana untuk buku berikutnya?

Kesibukan saat ini pastinya promo untuk Second Chance Series ini. Lalu saya juga sedang menunggu finalisasi untuk novel selanjutnya, bergenre domestic noir, tentunya dengan balutan nuansa Dark Romance ala Anggun Prameswari. Untuk ke depannya, saya ingin kembali menulis cerpen, menerbitkan antologi cerpen tunggal, dan menulis novel-novel berikutnya dengan tema-tema yang belum pernah saya garap sebelumnya. Sebenarnya dalam hati, ingin sekali menulis novel roman sejarah. Sudah ada bayangan kasarnya di kepala, tinggal nunggu momen dan jodohnya. Mohon doanya dari teman-teman semua.

Aamiin…. Aamiin….. teman-teman yang penasaran dengan Revenge, bisa langsung ke Toko Buku terdekat, baik toko buku Gramedia atau toko buku online lainnya. Jangan dipandang aja, dibeli juga, ya. Soalnya, beneran bagus dan unik lo ini bukunya.

Dan kalau kalian bertanya-tanya model covernya yang nggak kalah garangnya, yup dialah Salshabilla Adriani yang main di Anak Jalanan. Wih, pantas banget ya jadi Lea. 😀