Dyah Rinni

Your Helpful Insight to Writing and Being
Author Interview | Books

Wawancara dengan Silvarani, Pengarang Novel Reverse (Seri Second Chance – Penerbit Falcon)

January 22, 2018
Waktu Baca: 5 menit

Dyahrinni.com – Kalau minggu lalu kita sudah ngobrol dengan penulis beken Arumi E, sekarang kita akan berbincang dengan penulis Replace yang nggak kalah kerennya, yaitu Silvarani.

Silvarani atau yang bernama lengkap, Nadia Silvarani,  merupakan lulusan Sastra Prancis UI 2006. Setelah lulus S2 Ilmu Komunikasi di UI pada tahun 2013, ia menjadi penulis buku nonfiksi, novel, dan skenario film. Pengajar Bahasa Perancis ini juga suka traveling, film, dan musik, lo.

Yuk simak pengalamannya serta dalam menulis Reverse yang akan terbit bulan depan, ya.

Bisa diceritakan secara singkat, sebenarnya novel Reverse ini berkisah tentang apa?

Hi semuanya. Salam kenal. Saya Silvarani. Di novel Second Chance Series ini, saya menulis novel berjudul Reverse. Novel ini bercerita tentang Harmonica Medlina yang mengalami ketidakamanan dalam hubungan percintaannya. Hal ini dikarenakan suami Nica, Gatan Akordio, mantan vokalis Nocturne Band masih teringat dengan mantan kekasihnya yang telah meninggal 17 tahun lalu. Nama mantan kekasihnya tersebut adalah Viola Acapella. Viola adalah penyanyi wanita no.1 di tanah air sekitar tahun 90-an.

Ketika kesal, Nica pergi ke Cafe Second Chance dan membeli Walkman serta kaset The Best Nocturne Band. Ternyata, benda itu membawa Nica kembali ke tahun 90-an. Dapat kesempatan untuk time traveller ke masa lalu, tentu saja tak disia-siakan oleh Nica. Ia berniat untuk menghalangi perkenalan Gatan dan Viola agar Nica menjadi kekasih Gatan dari awal.

Bisakah Nica yang seorang biasa mengacaukan hubungan Gatan dan Viola yang merupakan pasangan musisi terkenal? Lalu, apa dampak yang terjadi dengan masa depan jika Nica melakukan perubahan-perubahan di masa lalu?

Wah menarik, ya ceritanya. Nah, kita mulai dari awal, ya. Bagaimana kamu bisa terlibat dalam serial Second Chance?

Saya berterima kasih kepada pihak Falcon Publishing dan editor Mbak Dee dan Mas Aziz (Jason). Berawal dari kepercayaan merekalah, saya dapat bergabung dalam projek Second Chance ini. Saya menjadi salah satu dari tiga penulis serial ini. Kami dibimbing melalui diskusi plot cerita, cover, dan lain-lain. Semoga novel series kita ini diterima masyarakat pecinta buku dan sampai jumpa di projek selanjutnya.

Apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan kamu saat mengetahui konsep Second Chance?

Very excited! Unik idenya dan ini novel semi fantasi pertama saya :D. Tanya deh sama editornya! Baru dikirim konsep garis besarnya melalui chat, saya langsung mau.

Ceritakan dong proses kreatif ide Second Chance?

Awalnya, saya dihubungi oleh Mbak Dee. Saya tertarik dengan ajakannya. Lalu, Mbak Dee mengirimkan sinopsis Second Chance ke email saya. Saya tertarik. Tak berapa lama kemudian, kami meeting bersama Mbak Anggun dan Mbak Arumi juga di kantor Falcon. Kita menggodok cerita di sana. Tidak langsung matang konsep ceritanya.

Sambil menulis dan mengirimkan progress pengerjaan tulisan, saya dan Mbak Dee sering berdiskusi mengenai cerita akhir. Setelah selesai, untuk mengedit, merevisi, cover, promosi, dan urusan teknis lainnya, para penulis dibantu oleh editor Mas Aziz.

Apa kendala yang dihadapi dalam penulisan Reverse?

Kendalanya apa, ya? Alhamdulillah lancar karena tema dan isi ceritanya sangat saya sukai.

Ada nggak sih situasi atau kenangan tak terlupakan saat penggarapan Reverse? Ceritakan, dong!

Apa, ya? Mungkin saya jadi menyelami dunia tahun 90-an. Salah satunya adalah musik-musiknya. Selain itu, saya kebetulan bergabung di komunitas yang menyukai hal-hal seputar tahun 90-an. Awalnya tak pernah kopi darat dengan mereka, tetapi karena menulis novel ini, saya jadi ikutan kopi darat dengan mereka dan menambah teman-teman baru.

Bagaimana hubungan kamu dengan penulis lain dalam seri Second Chance? Apa kalian sering ngobrolin ide bareng, nongkrong bareng, atau gimana?

Kalau nongkrong bareng di suatu tempat bareng dua penulis lain sebenarnya jarang. Setiap kali ingin merundingkan novel Second Chance series, kami semua bertemu di kantor Falcon. Namun, kami punya grup chat WA yang juga terdiri dari editor kami. Di sanalah kami mendiskusikan semua hal tentang novel series ini.

Jika kamu menemukan kafe seperti Second Chance, benda magis apa yang kamu harapkan bisa ditemukan di sana?

Saya sama seperti Nica. Saya ingin menemukan walkman dan kaset yang membawa saja kembali ke tahun 90-an. Namun, tak ada yang ingin saya ubah di masa lalu tersebut. Saya hanya ingin berekreasi. Saya kembali ingin merasakan jajan di warung atau sekolah saya dulu, main-main di lapangan bersama tetangga, bertemu dengan teman-teman sekolah saya versi mini alias masih kecil (Alhamdulillah sekarang masih keep in touch di social media), merasakan kembali dimanja oleh orang tua (kalau sekarang kan sudah besar. Mana mungkin dimanja-manja. Hahaha), dan lain-lain.

Sebagai penulis, kamu tentu sibuk. Bisakah kamu ceritakan bagaimana cara mengatur waktu hingga Reverse bisa selesai tepat waktu?

Hmm…. sebenarnya walaupun sibuk, itu sudah termasuk mengerjakan novel Second Chance. Maksudnya, ketika mendapatkan projek ini, saya langsung membuat timeline dalam penulisan novel ini. Memang ada sesekali terlambat mengumpulkan progress, tetapi tak sampai yang terlambat sekali.

Apa harapanmu dari novel Reverse ini?

Selain mendapatkan respon positif dari pecinta buku tanah air dan mereka senang membacanya, tentu saja ada hal-hal yang menghibur dan menginspirasi para pembaca.

Oke. Sekarang beralih ke topik lain. Siapa penulis favoritmu? Dan kenapa suka banget?

Banyak sekali penulis favorit saya. Ada yang penulis dalam negeri. Ada pula yang penulis luar negeri. Namun, kalau detik ini lagi sering kepo­-in Dewi Lestari yang akan mengeluarkan novel barunya. Kalau novelis pertama yang saya tahu dan saya baca novelnya pertama kali sewaktu SD adalah Mira W. Kalau novel Sejarah, saya suka Pramoedya Ananta Toer. Saya membaca juga buku-bukunya Bunda Helvy, Dan Brown, Paulo Coelho, Agatha Christie, Ika Natassa, dan lain-lain. Hahahaaa….

Apa judul novel yang tetap jadi favoritmu sampai sekarang?

Banyak juga. Hahahaa…. Ada Perfume yang ditulis oleh Patrick Suskind, Da Vinci Code-nya Dan Brown, Antologi Rasa-nya Ika Natassa, Supernova-nya Dee of course, aduh apalagi ya? Banyak. Oh iya Sybil yang punya kepribadian banyak. Memoirs of A Geisha, Gone with The Wind, The Diary of Anne Frank, Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer, dan lain-lain. Aduuuuh banyak bangeeet yang belum kesebut. Hahahaaa.

Kasih tips dong kepada penulis muda gimana caranya supaya tetap konsisten menulis dan nggak patah semangat dalam menyelesaikan novel?

Pokoknya kita ingat saja bahwa menulis adalah talenta yang Tuhan berikan kepada kita. Untuk apa? Bukan untuk pamer kalau kita bisa menulis, tetapi untuk share info, hiburan, atau inspirasi ke banyak orang. Jangan pernah kita sia-siakan. Hidup hanya satu kali. Semoga kita dapat termasuk menjadi orang yang berguna bagi orang lain di kehidupan ini. Jadi, jangan berhenti menulis, ya! Banyak orang yang ingin tahu informasi dari kita.

Sebagai penulis, pernah nggak sih kamu nggak mood dalam menulis? Kalau pernah, bagaimana cara kamu mengatasinya?

Pasti pernah dong! Cara saya mengatasinya yaaa…. jangan menulis dulu! Hahaha…. Daripada di depan laptop tapi tidak menulis-nulis? Buang waktu dan baterai laptop kan? Lebih baik lakukan aktivitas lain, dan positive thinking saja inspirasi akan datang ketika kita melakukan kegiatan baru.

Oh, ya. Sebagai penulis terkenal, tentu kamu pernah menghadapi haters, bagaimana cara menghadapinya?

Saya jujur biasa saja. Saya mengkategorikan haters ada dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang memberikan kritik membangun. Terkadang kita perlu mendengarkan kritikan mereka. Kelompok kedua adalah mereka yang cuma ngomong jelek-jelekin saja. Jujur saya lebih sakit hati sama kelompok yang kedua. Karena mereka hanya ngata-ngatain saja. Tapi berpikirnya begini saja, ya sudah kalau itu membuat mereka lebih senang. Biarkan saja. Hehehe.

Sebagai penulis, saya punya motto, perasaan baper hanya dibutuhkan saat menulis fiksi saja. Ketika mempromosikan karya, menerima revisi dari editor, atau mendapatkan kritikan dari haters, kita jangan baper. Semangat kita harus seperti atlet atau kalau perlu tentara! :D.

Saat ini, kamu sedang sibuk apa? Apakah ada rencana untuk buku berikutnya?

Sibuk apa ya? Campur-campur kayak gado-gado, deh. Hehehe. Selain menulis buku, saya mengajar Bahasa Prancis dan kadang-kadang diundang untuk mengisi seminar kepenulisan. Kalau menulis, sekarang sedang senangnya menulis cerita pendek di Instagram. Hastagnya #SilvaraniOnlineStory . Kalau untuk novel, ada beberapa judul yang masih dalam proses penggodokan plot cerita oleh pihak penerbit. Terima kasih sudah interview yaa.

Terima kasih juga mbak Silvarani yang sudah mau menyediakan waktu untuk interview.

Sebagai penutup, yuk baca sinopsis Reverse Tentunya kalian penasaran, kan?