Dyah Rinni

Your Helpful Insight to Writing and Being
Character | Writing

Memperkuat Karakter dengan Circle of Being

May 29, 2017

Beberapa waktu yang lalu (ehm, lebih tepatnya sekitar satu tahun yang lalu, sih. Yes, saya memang selambat itu…) saya bertanya pada teman –teman, apa masalah terbesar mereka dalam menulis. Ada beragam jawaban yang masuk, namun agar lebih mudah dalam membahasnya, saya memutuskan untuk mengelompokkan jawabannya.

Kali ini, saya mengumpulkan semua pertanyaan yang berkaitan dengan karakter. Ini beberapa pertanyaan yang masuk:

Bagaimana menciptakan tiap karakter dalam fiksi hingga pembaca terkesan dan ingat, serta bagaimana mengolah konflik agar berkembang bagus dan menjiwai setiap karakter, hingga mampu mengaduk-aduk emosi pembaca? – Sasi Indudewi
Menghidupkan karakter tokoh (asli susah)! – Kejora Anaphalisia
Bagaimana caranya membuat karakter tokoh pada naskah kita menjadi bernyawa? – Desi Tri Rahmawati

Dari ketiga penanya di atas, kita bisa mengambil garis merah bahwa mereka ingin tahu bagaimana caranya supaya karakter mereka menjadi lebih hidup, lebih believeable dan pada akhirnya menjadi lebih diingat oleh pembaca.

Ada banyak cara untuk menjadikan sebuah karakter hidup. Tetapi kali ini, saya akan membicarakan konsep yang akhir-akhir ini saya pakai dan menurut saya bagus banget untuk menghidupkan karakter.

Bagi saya, karakter yang hidup bukan sekadar karakter yang unik. Untuk menjadikan karakter unik, kamu tinggal membuatnya sangat berbeda dengan karakter lain yang ada di dalam cerita. Mungkin kalau karakter normal hidup di rumah, karakter kamu hidup di atas awan atau di dalam tanah. Unik kan? Tetapi hanya karena karaktermu berbeda, tidak berarti pembaca akan selalu mengingatnya. Karena sebenarnya yang kamu butuhkan bukan hanya karakter yang unik. Kamu membutuhkan karakter yang terintegrasi dengan cerita itu sendiri.

Dan di sinilah kamu akan menggunakan konsep circle of being.

Circle of Being

Jangan pusing dulu mendengar istilahnya. Karena sebenarnya konsep ini tidak rumit- rumit amat dan bisa jadi tanpa sadar sudah pernah kamu terapkan ke dalam cerita.

Istilah circle of being ini digunakan oleh Syd Field dalam bukunya, The Screenwriter’s Problem Solver. Ia tidak memberikan definisi resminya, namun dari penjelasannya, saya menyimpulkan bahwa circle of being adalah rangkaian kejadian dalam kehidupan yang membentuk karakter, baik dalam bersikap maupun mengambil tindakan.

Jadi kalau karakter kamu pernah ditindas saat masih muda, nggak akan heran kalau kemudian ia jadi orang dewasa yang anti penindasan atau sebaliknya, menjadi pribadi yang menindas orang lain. Nah, sudah dapat gambarannya, kan?

Saat karakter kamu berkaca, siapa sebenarnya dia? Masa lalu seperti apa yang membentuk dia seperti sekarang?

Syd Field mendasarkan konsepnya pada pendapat Joseph Chilton Pierce. Menurutnya ada empat tahap pertumbuhan manusia, yaitu;
Usia 1 tahun, di mana anak mulai belajar berjalan.
Usia 4 tahun, di mana ia menyadari identitas sebagai lelaki atau perempuan, memiliki nama, dan mampu mengkomunikasikan kebutuhannya.
Usia 9-10 tahun di mana sang anak menyadari bahwa ia memiliki kepribadian sendiri, mampu menyuarakan keinginannya.
Usia 15- 16 tahun di mana sang anak mulai mencari jati dirinya dan melakukan pemberontakan.

Syd Field mengatakan bahwa jika ada kejadian yang memengaruhi kepribadian seseorang, sebaiknya diletakkan di usia sepuluh atau enam belas tahun.

Sebagai catatan, kejadian yang memengaruhi hidup ini bisa beragam, tidak selalu harus berkaitan dengan kematian. Jika karaktermu pernah mendapatkan cewek paling keren di sekolah pada usia 16 tahun, mungkin ia menjadi percaya bahwa ia adalah cowok paling keren di dunia dan menjadikan kecantikan cewek ini sebagai patokan dalam mencari jodoh. Padahal, bisa jadi si cewek cantik itu hanya kasihan atau hanya ingin balas dendam pada mantan pacarnya. Begitu juga saat tokohmu pernah berusaha mengungkapkan kecurangan saat ujian tetapi malah disingkirkan dan dipermalukan. Mungkin ia akan berkembang menjadi karakter yang tidak peduli lagi dengan kejujuran.

Memasukkan Circle of Being ke dalam Cerita

Circle of Being ini menjadi alat yang bagus bagi karakter jika kamu memasukkanya ke dalam bagian dari pengembangan karakter atau bagian dari plot cerita. Jika hanya menjadi background belaka, tetapi tidak pernah dibahas, tentu saja tidak ada artinya.

Tanpa sadar, saya pernah menerapkan Circle of Being saat menggarap Unfriend You. Kalau kalian masih ingat, karakter Langit adalah karakter yang pernah mengalami penindasan saat SMP. Karena itu ia berkembang menjadi karakter yang anti penindasan.

Di dalam Asa Ayuni juga ada Circle of Being, meskipun tidak saya nyatakan secara eksplisit. Kehilangan ayahnya saat masih muda memengaruhi pilihan hidup Ayuni, bagaimana ia memilih jodoh, bagaimana ia hidup di dunianya sendiri dan lain sebagainya. Silahkan baca kembali bukunya supaya saya nggak spoiler, hehe.

Karena masa lalu seseorang yang unik bisa memengaruhi kepribadian seseorang, maka pada akhirnya karakter kamu juga akan menjadi unik. Karakter kamu juga akan lebih dalam, bukan sekadar karakter dua dimensi tetapi terasa hidup dan nyata. Kamu juga bisa menerapkan circle of being ini pada karakter-karakter pendukung untuk menambahkan dimensi karakter mereka, meski tetap saja yang harus menjadi fokus kamu adalah tokoh utama.