Dyah Rinni

Your Helpful Insight to Writing and Being
Idea | Tips & Tricks | Writing

Menyusun Ide Cerita untuk Novel

April 22, 2017

Bagaimana cara mendapatkan ide cerita novel yang bagus? Pertanyaan ini sering muncul dari penulis atau calon penulis. Dan jawaban yang datang seringkali, “Ya tulis saja apa aja yang ada di otak. Nanti lama-lama juga dapat.” Di satu sisi, jawaban ini tidak salah. Saya seringkali melakukannya, menulis ide apa saja yang muncul di kepala dan berharap dewi keberuntungan menepuk pundak saya. Tetapi di sisi yang lain, hal ini tidak cukup membantu. Kamu bisa saja mencorat-coret sepuluh halaman dan berakhir dengan ide cerita yang buruk, nggak jalan, atau dua-duanya.

Untuk mendapatkan ide, kita juga harus tahu cara berpikir yang benar.

Mulai Menyusun Cerita

Ada banyak metode untuk mencari ide cerita. Beberapa di antaranya sudah saya singgung di postingan yang lain seperti ini, ini, dan ini. Kali ini saya mencoba menggunakan metode dari Pilar Alessandra dalam bukunya The Coffee Break Screen Writer. Screen Writer? Bukankah itu khusus untuk menulis skenario? Yup, tapi bagi saya pribadi, ilmu dari penulisan skenario, sangat membantu penulis novel untuk merancang cerita.

Alessandra mengartikan CERITA sebagai TOKOH UTAMA memiliki MASALAH sehingga mereka mengambil TINDAKAN yang memiliki PERTARUHAN (stake).

Pertaruhan atau stake adalah dampak yang terjadi jika tokoh gagal mencapai tujuannya. Misalnya, ia akan meninggal, kehilangan orang yang ia cintai, kehilangan harga diri, dan lain-lain. Kita akan membicarakan stake lebih mendalam di lain waktu.

Untuk sampai pada satu cerita yang utuh seperti kalimat di atas, Alessandra menyarankan agar kita memahami terlebih dahulu tokoh utama kita. Seorang tokoh utama tidak akan bergerak mengambil tindakan jika emosi mereka tidak terpengaruh. Sebagai contoh, Katniss tidak akan memutuskan ikut Hunger Games jika ia tidak takut kehilangan adiknya. Karena itu, emosi mendorong tindakan. Tindakan memengaruhi emosi.

Cerita Hunger Games dimulai ketika Katniss memutuskan untuk menggantikan adiknya, Primrose yang secara acak dipilih untuk menjadi peserta.

Karena itu juga, Emosi + Tindakan = Cerita.

Berdasarkan konsep tersebut, cobalah untuk mulai merancang cerita seperti ini.

Di awal cerita, hal ini terjadi:___________________________________________

Ini membuat tokoh utama merasa: ___________________________________________

Jadi dia melakukan: ___________________________________________

Tetapi orang lain melakukan: ___________________________________________

Kejadian ini membuat tokoh utama merasa ___________________________________________

Jadi dia melakukan: ___________________________________________

Begitu seterusnya hingga cerita berakhir.

Sebagai contoh, mari kita menggunakan cerita dari Mermaid Fountain karya saya. Yes, postingan ini mengandung materi iklan.

Di awal cerita, hal ini terjadi: Mairin, seorang chef, baru saja membuka restoran seafood namun managernya khawatir ramainya restoran mereka tidak berlangsung lama.

Ini membuat tokoh utama merasa: bertanggung jawab

Jadi dia melakukan: berjanji untuk membuat menu baru

Tetapi orang lain melakukan: merampok restorannya dan melukai Mairin sehingga ia kehilangan indra penciumannya.

Kejadian ini membuat tokoh utama merasa bersalah dan khawatir akan kelangsungan restorannya.

Jadi dia melakukan: berpura-pura bahwa ia masih bisa melakukan tugasnya sebagai chef.

Ini terjadi pada tiga bab pertama. Kamu bisa membaca ceritanya di sini.

Ini baru model awal corat-coret kita. Pada bagian berikutnya, kita akan membicarakan tentang character flaws (kekurangan yang dimiliki tokoh utama) sebagai salah satu bumbu untuk menciptakan cerita yang menarik.

 

 

 

 

 

  • Andri Priyantoro

    terima kasih mbak, ini sangat bermanfaat bagi saya yang mulai suka menulis saat ini semoga saya juga bisa membuat karya yang bermanfaat seperti artikel ini.

    • http://dyahrinni.com deetopia

      Sama-sama. Ditunggu karyanya. 🙂