Dyah Rinni

Your Helpful Insight to Writing and Being
Character | Opening | Tips & Tricks

4 Taktik Meraih Simpati Pembaca

April 1, 2017

Di post sebelumnya, kita telah membicarakan dua hal yang dapat ‘memaksa’ pembaca untuk membaca cerita kamu yaitu dengan menempatkan bahaya dan kejutan sejak halaman pertama. Tetapi dua hal itu saja tidak akan cukup untuk menahan pembaca hingga halaman terakhir. Masih ada hal lain yang memisahkan antara cerita yang terus dibicarakan hingga buku ditutup dengan cerita yang hanya dibaca hingga beberapa halaman, kemudian dilupakan.

Pada bagian ini, kita akan membahas reader’s engagement.

Kita tentu tahu perasaan itu. Saat kita membaca halaman pertama dan kemudian bertemu dengan tokoh utamanya, kita mengatakan, “ini aku banget,” atau “aku ngerti perasaan kamu,” atau “aku juga bakal begitu kalau jadi kamu.” Itu salah satu tanda-tanda bahwa kamu sudah melakukan engagement dengan baik.

Jodi Picoult menggambarkannya dengan sangat bagus pada prolog The Tenth Circle:

Begini rasanya ketika kamu menyadari bahwa anakmu hilang: Perutmu membeku dengan cepat, sementara kakimu berubah menjadi jeli. Ada satu sentakan keras menghantam jantungmu. Bentuk namanya, tajam seperti alat kikir, terperangkap di antara gigimu saat kau memaksakan diri untuk meneriakkannya. Rasa takut bernapas seperti monster ke telingamu: kapan terakhir kali aku melihatnya? Apakah dia nyasar? Siapa yang sudah menculiknya? Dan kemudian, tenggorokanmu seakan tercekat, saat kamu harus menelan fakta bahwa kamu telah membuat kesalahan yang tidak akan pernah bisa kau perbaiki.

 

Tidak semua dari kita pernah berada di dalam posisi si tokoh utama, tetapi kita semua langsung bisa nyambung dengan perasaan si tokoh. Kita tahu betapa tidak enaknya kehilangan sesuatu atau melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Dengan cantik, Picoult memaksa pembaca untuk terkoneksi dengan Daniel Stone, sang tokoh utama.

Dalam bahasa yang sederhana reader’s engagement ini bisa kita sebut juga dengan empati. Masalahnya, bagaimana membuat pembaca bersimpati dengan karakter utama kita?

James Scott Bell dalam bukunya, Revision and Self Editing, menyebutkan ada empat hal yang bisa membangkitkan simpati, yaitu:

Jeopardy (Masalah)

Kita cenderung bersimpati pada orang yang punya masalah besar atau terzalimi. Iya, kan? Siapa yang nggak bersimpati dengan ibu rumah tangga yang suaminya mencari istri baru? Siapa yang nggak bersimpati dengan korban bully? Meski kita sendiri tidak ingin mengalaminya, kita tidak bisa mengingkari bahwa masalah akan menciptakan simpati. Karena itu berikan masalah yang besar bagi tokoh utama. Tempatkan dia di neraka yang paling dalam, entah dalam arti mental atau arti sesungguhnya. Buat dia mengais-ngais mencari jalan keluar dari neraka tersebut. Maka pembaca juga akan terus mendampingi tokoh utama kamu.

Di dalam Tenth Circle, Daniel pernah kehilangan anaknya, Trixie dan ia merasa gagal melindungi anaknya. Namun saat Trixie beranjak remaja, ada masalah yang lebih besar lagi menghadang, Trixie mengaku diperkosa oleh mantan pacarnya. Meski kita tidak ingin berada di dalam posisi Daniel, kita dapat merasakan perasaan Daniel.

Hardship (Kerja Keras)

Sekadar masalah saja tidak cukup. Tokoh utama yang mendapatkan masalah, namun hanya menangisi nasibnya tanpa berusaha, akan segera ditinggalkan pembaca. Sebaliknya, meski tokoh utama kamu agak-agak menyebalkan seperti Scarlet O’Hara, misalnya, pembaca tetap menyukainya. Kenapa? Karena Scarlet berjuang demi kehidupannya. Scarlet berjuang mengatasi masalah dan meraih apa yang ia inginkan, dan hal ini yang membuat pembaca tetap bersamanya. Pembaca menyukai karakter yang aktif mengatasi masalah, bukan yang pasif mengikuti arus.

The Underdog. 

Kamu ingin menambah simpati pembaca? Coba buat dia sebagai underdog. Orang selalu menyukai pihak-pihak yang sulit atau bahkan rasanya nggak mungkin jadi pemenang seperti Rocky Balboa atau Forest Gump. John Grisham juga memiliki karakter underdog, seperti Rudy Baylor di Rainmaker.

Vurnerability (Rapuh)

Rapuh bukan berarti lemah. Tanpa adanya kelemahan, tokoh utama akan terlalu kuat dan justru tidak nyambung dengan pembaca. Kekurangan akan membuat tokoh terlihat lebih manusiawi sekaligus membuat pembaca terus mengkhawatirkan keselamatannya hingga halaman terakhir. Bell memberikan contoh karakter Rose dalam Rose Madder karya Stephen King. Rose adalah karakter yang melarikan diri dari suaminya yang psycho, namun karena dikurung bertahun-tahun, Rose tidak memiliki keterampilan hidup. Jadi, saat dia kabur, ia tidak hanya harus mencari pekerjaan (yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya) sekaligus bertahan hidup dari suaminya yang ternyata seorang polisi dan tahu betul bagaimana cara melacak orang.

 

Jadi, itulah empat hal yang dapat kamu gunakan dalam cerita untuk menarik simpati pembaca. Sebagai tambahan, teori Dramatica menyebutkan bahwa pembaca perempuan lebih gampang berempati dengan karakter yang tidak memiliki pilihan lain, sementara pembaca laki-laki lebih mudah berempati dengan karakter yang diburu oleh waktu. Jadi, coba pikirkan ini saat kamu membuat konsep cerita.

Have a great day writing!

Latihan

  1. Cek kembali tokoh utama kamu. Apa kesamaan sifat yang ia miliki dengan banyak orang? Bagaimana cara kamu menunjukkannya
  2. Apakah tokoh utamamu sudah memiliki masalah atau tujuan yang dapat membuat pembaca berempati dengannya?
  3. Apakah tokoh utamamu hanya mengikuti arus atau sudah bertindak aktif dan berani melakukan hal yang benar?