Dyah Rinni

Your Helpful Insight to Writing and Being
Opening | Tips & Tricks | Writing

Buat Pembuka Cerita yang Menarik dengan Dua Hal ini

March 25, 2017
http://www.freepik.com/free-photo/surprised-man-reading-a-book_995438.htm#term=surprise book&page=1&position=6

Kalau ada satu aturan universal yang saya pegang teguh saat membuat cerita, itu adalah, jangan membosankan. Kamu boleh beradu pendapat tentang penting tidaknya prolog. Kamu boleh sepakat atau tidak  tentang porsi show and tell di dalam cerita. Tetapi satu hal yang mutlak, paling nggak buat saya, bahwa begitu cerita kamu nggak menarik, begitu cerita kamu jadi membosankan, hidup kamu sudah kelar. Pembaca akan menutup buku kamu dan beralih ke cerita yang lain.

Di dunia yang banjir akan informasi, perhatian menjadi komoditas yang paling penting. Kamu nggak hanya bersaing dengan sesama penulis, tetapi juga dengan televisi, film, media online, iklan, dan lain-lain. Bagaimana kamu akan mampu mencuri perhatian? Bagaimana kamu bisa menunjukkan bahwa novel kamu lebih layak (atau paling nggak sama layaknya deh) dengan drama Korea yang lagi dihebohkan teman-teman kamu itu?

Jeff Gerke, dalam bukunya, Hack Your Reader’s Brain, memberikan dua tipsnya, yaitu dengan memasukkan unsur bahaya dan kejutan pada bab pertama cerita.

Bahaya
Jika ada satu hal yang membuat kita selalu waspada, itu adalah bahaya. Otak kita memiliki bagian yang disebut sebagai otak kadal, dan bagian itu akan siaga jika kita menghadapi bahaya.  Kalau kita nggak punya, nenek moyang kita mungkin bakal nyantai aja saat ketemu macan sabertooth dan kita nggak bakal terlahir ke dunia ini. Di masa sekarang, bagian tersebut akan waspada saat kita membaca berita yang mengancam kita, seperti berita tentang beredarnya narkoba di TK. Nggak heran kan kalau kita akan lebih banyak berbagi tentang berita yang mengandung kata “waspada” dibandingkan dengan berita tentang launching buku, misalnya. #jadicurcol

Sebagai penulis, kita bisa memanfaatkannya untuk menggaet perhatian pembaca kamu dengan menempatkan bahaya pada bab pertama. Karena ini juga tidak heran kalau muncul banyak nasihat, seperti, “tempatkan tokoh utamamu langsung ke dalam aksi.” Itu karena secara alami, masalah atau bahaya akan membuat pembaca terus mau membaca.

Bahaya tidak harus berwujud dalam bentuk fisik, namun juga emosi. Perasaan takut kehilangan anak seperti dalam The Tenth Circle (Jodi Picoult) atau Holy Mother (Akiyoshi Rikako)? Boleh. Dimusuhi oleh teman sendiri seperti di Unfriend You karya saya? Boleh banget. Silakan cek halaman pertamanya di sini, ya.

Kejutan
Seperti bahaya, otak kita menyukai kejutan. Kita sudah terbiasa dengan pola cerita. Cowok ketemu cewek, pasti nanti jadian deh. Pasti nanti ada orang ketiga. Pasti mereka pisah lagi tapi kemudian jadian lagi. Lama-kelamaan hal tersebut menjadi klise dan tidak lagi menarik. Karena itu, adalah tugas kita sebagai penulis untuk menambahkan hal-hal baru dan hal-hal yang tidak terduga di dalam cerita. Oke, mungkin ini adalah cerita cowok ketemu cewek. Tetapi ada unsur baru di dalamnya, seperti si cowok adalah penyandang autis. Perhatikan contohnya dalam halaman pertama novel The Rosie Project karya Graeme Simsion.

Aku mungkin sudah menemukan solusi untuk Urusan Istri ini. Sama seperti banyak terobosan ilmiah lainnya, setelah ditengok ke belakang jawabannya ternyata sangat jelas. Tetapi kalau bukan karena serangkaian peristiwa yang tidak terencana, bisa jadi aku tidak menemukannya.

 

Pada paragraf selanjutnya, Simsion memberikan penjelasan tentang siapa tokoh utamanya (Don Tillman) dan sindrom Asperger yang dimilikinya. Hal ini membuat Don tidak mudah untuk berdekatan dengan perempuan, apalagi mencari istri. Meski sebenarnya ini adalah cerita sederhana boy meets girl, ada kejutan baru di dalamnya yang mampu membuat orang penasaran.

Apakah kita harus menempatkan unsur bahaya dan kejutan ini di halaman awal? Idealnya demikian. Semakin awal, semakin besar peluang kita untuk menggaet pembaca. Namun dalam realitanya, pembaca cukup sabar untuk membaca hingga beberapa halaman sebelum mendapatkan unsur bahaya atau kejutan. Jadi kamu nggak harus terpatok untuk menempatkan bahaya langsung di halaman pertama, asal jangan kelamaan juga. Holy Mother, misalnya, baru menempatkan unsur bahaya pada sepertiga akhir bab pertama. Liane Moriarty juga baru menyuntikkan unsur bahaya dan kejutan ini di halaman 4-5 pada novelnya, Big Little Lies.

Ini malam yang aneh.

Para orangtua murid Pirriwee Public anehnya menyukai pesta kostum. Malam kuis yang biasa-biasa saja tidak cukup bagi mereka. Dari undangan yang diterimanya, Mrs. Ponder tahu bahwa ada orang kreatif yang memutuskan mengadakan “Malam Kuis Audrey dan Elvis”, yang berarti semua wanita harus berpenampilan seperti Audrey Hepburn dan para pria harus berpenampilan seperti Elvis Presley. (Itu alasan lain mengapa Mrs. Ponder menolak undangan itu. Ia benci pesta kostum). Sepertinya gaya Audrey Hepburn yang paling popular adalah penampilannya di Breakfast at Tiffany’s. Semua wanita memakai gaun hitam panjang, sarung tangan putih, dan kalung mutaira model chocker. Sementara itu sebagian besar pria memilih meniru gaya Elvis di tahun-tahun terakhir. Mereka semua memakai jumpsuit putih mengilat, permata-permata yang berkilau, dan garis leher yang sangat rendah. Para wanita terlihat cantik. Para pria malang terlihat sangat konyol.

Sementara Mrs. Ponder mengamati, salah seorang Elvis meninju rahang Elvis lain. Pria itu terhuyung mundur, menubruk salah seorang Audrey. Dua Elvis mencengkeramnya dari belakang dan menariknya menjauh. Seorang Audrey menutupi wajah dengan tangan dan membuang muka, seolah tak sanggup menyaksikan. Seseorang berteriak, “Hentikan!”

Benar. Apa yang akan dipikirkan anak-anak kalian yang manis?

“Apakah aku perlu menghubungi polisi?” Mrs. Ponder bertanya pada diri sendiri, tapi kemudian ia mendengar bunyi sirine di kejauhan, pada saat yang sama ketika seorang wanita di balkon mulai menjerit panjang.

 

Perhatikan bagaimana Moriarty mengubah pesta kostum yang harusnya menyenangkan (dan sedikit konyol), menjadi sesuatu yang menegangkan dan mengejutkan. Pembaca bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. Dan itu yang akan membuat pembaca (termasuk saya) terus membaca hingga 500 halaman berikutnya.

Jadi, apa dua hal itu saja cukup untuk membuat karya kamu menarik perhatian pembaca, membuat mereka mau membawa pulang buku kamu? Sayangnya tidak. Masih ada bahan-bahan lainnya. Tunggu saja bagian berikutnya, ya.

NB: Mulai sekarang, saya akan menambahkan fitur latihan bila memungkinkan. Tujuannya adalah agar kamu bisa ikut berpikir kritis dan juga berlatih untuk memperbaiki tulisan kalian sendiri. Lagipula itu tujuan kamu mampir ke blog ini, kan?

Latihan

  1. Baca kembali semua novel favorit atau bestseller kamu. Apakah ada unsur bahaya atau kejutan yang kamu temukan di sana? Seperti apa?
  2. Jika di dalam bab pertama novel tersebut tidak ada unsur bahaya atau kejutan, apakah kamu merasa perlu menambahkannya atau pembukaan novel itu sudah cukup begitu apa adanya. Hal ini dapat membantu kamu untuk kritis terhadap sebuah cerita dan membantu kamu untuk memperbaiki karya kamu sendiri.
  3. Baca kembali pembukaan cerita kamu. Dapatkah kamu menempatkan unsur bahaya atau kejutan pada bab pertama ceritamu?