Dyah Rinni

Your Helpful Insight to Writing and Being
Creativity | Mind | Writing

Writer’s Block? Mari Berpikir Kreatif Terbalik

March 11, 2017

Cara membalikkan ide ini, atau lebih tepatnya membalikkan alur pemikiran kita adalah salah satu cara yang saya dapatkan ketika saya menulis novel saya, Detektif Imai. Menulis cerita detektif itu (katanya) sedikit berbeda. Pada umumnya saat menulis cerita,  kita berpikir dari A ke B lantas ke C. Tetapi saya kemudian dinasehati bahwa saat menulis cerita detektif, kita harus berpikir dari C, ke B baru kemudian A. Jadi, kita berpikir mundur.

Contohnya: Kita tidak berpikir detektif X menemukan mayat dan kemudian melihat petunjuk yang ada dan kemudian menentukan pelakunya. Tetapi sebagai penulis, kita berpikir kebalikannya. kita mulai berpikir dari apa yang sebenarnya terjadi, kemudian mundur ke awal cerita sementara kita  menyembunyikan dan menyebarkan satu persatu petunjuknya.

Saya pikir, ini adalah teknik ‘khusus’ untuk menulis cerita detektif saja. Akan tetapi saya kemudian menyadari bahwa pemikir besar seperti Einstein juga memakai cara ini dalam bekerja.

Bagaimana Cara Bekerja Mundur

Dalam berpikir ‘standar’, kamu bergerak maju dari A ke B ke C ke D ke E. Dengan berpikir mundur, kamu dipaksa buat memikirkan terlebih dahulu akhir ceritanya.  Mungkin tokoh utamanya bahagia, mungkin meninggal, mungkin mendapatkan hikmah dari perjuangannya. Apapun itu, kamu udah tahu endingnya.  Mari kita sebut Ending ini sebagai titik E.

Nah setelah itu, kamu tinggal mengisi titik-titik gimana supaya cerita bisa sampai ke  A (awal cerita). Bisa jadi, dalam perjalanan ide, kamu langsung ketemu A, tetapi bisa jadi ketemu E dulu. Jadi bisa jadi alur pemikiranmu bakal begini: E ke C ke B ke D baru ke A.

Dengan cara ini, kamu bakal menemukan berbagai cara buat memulai dan mengembangkan cerita. Kamu nggak akan terfokus pada gimana tokoh kamu ketemu (karena itu bisa disesuaikan dengan kebutuhan cerita). Tetapi kamu jadi lebih fokus pada hasil akhir cerita, apa yang ingin kamu sampaikan ke pembaca.

Petunjuk Berpikir Mundur

  1. Tutup mata kamu, rileks, dan bayangkan ending (akhir cerita) ideal yang kamu inginkan buat cerita kamu. Apakah kamu ingin tokoh utama kamu bahagia selama-lamanya? Ingin tokoh kamu menyesal seumur hidup?
  2. Tuliskan ending tersebut di kertas. Tuliskan apa manfaat kamu menuliskan ending seperti itu. Tuliskan pula bagaimana perasaan kamu. Kamu bisa juga membayangkan pembaca atau editor.
  3. Bagaimana caranya tokoh kamu mencapai ending tersebut? Pikirkan caranya. Bisa jadi kamu cuma tahu sedikit di sini atau di sana. Nggak apa-apa.
  4. Biarkan semua alternatif pemikiran kamu  muncul. Mungkin kamu akan menemukan tokoh baru, setting baru, mencoret tokoh yang sudah ada, membuang konsep yang kamu pegang. Jangan disensor.
  5. Mulailah mengurutkan adegan mana yang muncul terlebih dahulu. Pemikiran ini akan memaksa kamu untuk memikirkan ulang kaitan antar adegan, hubungan antar tokoh, dan sebagainya. Namun pada saat yang sama, kamu juga tetap terfokus pada tujuan utama kamu.
  6. Masih belum dapat juga? Sama seperti proses berpikir lainnya, berpikir mundur juga perlu waktu. Kalau ada bagian yang kosong, bisa jadi kamu perlu lebih banyak riset, tanya-tanya atau diskusi dengan orang lain.

Selamat berpikir terbalik!

Sumber: Michalko, Michael. Cracking Creativity: The Secrets of Creative Genius (2001)