Dyah Rinni

Your Helpful Insight to Writing and Being
Mind | Writing

7 Cara Mengatasi Writer’s Block

March 5, 2017

Paolo Coelho pernah mengatakan bahwa satu-satunya saat di mana ia mengalami writer’s block atau kebuntuan dalam menulis adalah saat komputernya rusak. Hmm… kayaknya nggak fair, ya. Bagaimana mungkin buat dia, writer’s block itu cuma kalau lagi sial, sementara buat kita, writer’s block itu kayak tetangga nyinyir yang harus kita temui setiap hari?

Yes, buat saya, writer’s block itu nyata. Nggak profesional? Nyatanya itu yang terjadi. Setelah menyelesaikan novel terakhir saya, energi saya seperti terkuras habis. Ada ide baru yang muncul, tetapi entah kenapa setiap kali saya mencoba membuat konsepnya, saya selalu tidak puas. Saya selalu menemukan jalan buntu. Tidak peduli berapa banyak buku yang saya baca. Ada yang salah, tetapi saya tidak tahu apa.

Dan saat itu saya menyadari bahwa itulah writer’s block saya. Pada awalnya saya membencinya. Saya ingin kembali ke masa saat saya mengerjakan novel sebelumnya. Dunia terasa indah, penuh kupu-kupu, kata-kata saya lancar. Itu yang saya inginkan. Tetapi bukan seperti itu kenyataannya.

Baru kemudian saya menyadari bahwa tidak seharusnya saya membenci writer’s block itu. Saat masalah datang, sebenarnya ia tengah mengatakan ada sesuatu yang salah Entah kita kurang motivasi (sehingga malas), kurang ilmu, kurang riset, kurang mencintai ide kita, jenuh, ada masalah, dan sebagainya. Cuma kamu yang bisa menanyakan itu pada diri kamu sendiri dan menemukan jawabannya.

Jadi bagaimana jika kamu menghadapi writer’s block? Ini sedikit tips untuk menguraikannya.

  1. Terima aja deh writer’s block sebagai bagian dari lingkaran kreativitas. Kadang kamu dapat ide, kadang tidak. Tetapi jangan jadikan ini alasan. Teruslah mencari ide yang lain.
  2. Jika kamu kurang motivasi, tanyakan pada diri Anda sendiri alasan dasar mengapa kamu harus menyelesaikan tulisanmu. Niat yang positif biasanya sih lebih gampang menghancurkan si writer’s block daripada niat seperti ingin terlihat hebat.
  3. Salah satu alasan mengapa kamu dapat writer’s block adalah karena kamu nggak berpikir lancar. Coba cari tahu bagaimana orang kreatif seperti Da Vinci atau Edison (atau mungkin penulis favorit Anda?) memecahkan kebuntuan mereka.
  4. Sumber ide yang kering juga mungkin menjadi alasannya. Carilah ide baru lewat buku atau pengalaman hidup baru. Nongkronglah di kafe atau di pinggir jalan, atau iseng naik angkutan umum keliling kota, dengarkan apa obrolan orang, baca buku random, nonton film dari negara atau genre yang asing buat kamu, baca berita random, kunjungi museum, atau apapun untuk memperkaya pengalaman hidup kamu.
  5. Carilah pendapat dari teman yang bisa dipercaya. Mungkin mereka bisa melihat apa yang salah saat Anda tidak. Tapi mungkin juga enggak sih. Jadi nggak memecahkan masalah, ya? Hehe
  6. Writer’s block bisa aja terjadi kalau kamu jenuh. Tubuhmu juga punya hak untuk beristirahat. Bisa aja kamu udah terlalu banyak menulis (meski bukan yang kamu inginkan). Menulis itu seperti lari marathon, bukan lari 100 m. Biar bisa menulis dalam jangka panjang, kamu perlu mengatur energi dengan baik. Jadi, pergi ke tempat tidur sana dan pergi ke pulau kapuk.
  7. Yang terakhir, bersikaplah fleksibel. Mungkin emang ide kamu udah mentok. Mungkin ada ide yang lebih baik di luar sana. Tinggalkan ide lama kamu, tetapi jangan melupakannya.

Catatan: Saran di atas nggak berlaku jika kamu menghadapi tenggat waktu. Sorry, jenuh atau tidak, kamu harus menyelesaikan pekerjaan kamu.